KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Lingkungan HidupHARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 5 JUNI 2019: Bersama Kita Lawan Polusi Udara oleh : Danny Melani Butarbutar
06-Jun-2019, 03:45 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 Juni. Pada tahun ini mengambil tema melawan polusi udara #BeatAirPollution. Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran global untuk melakukan aksi positif bagi perlindungan pada
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB

 
Puisi-Puisi Silivester Kiik 17 Jun 2019 15:16 WIB

Sayap Muratara 17 Jun 2019 15:14 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Permukaan Danau Toba Turun 2,5 Meter Berdampak pada Pariwisata dan Kelestarian Lingkungan
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 06-Sep-2018, 16:07:00 WIB

KabarIndonesia -- Samosir, Dalam beberapa tahun terakhir ini, kawasan Danau Toba diterpa musim kemarau yang berkepanjangan, mengakibatkan cuaca panas dan lahan menjadi kering. Pengamatan pewarta kabarindonesia.com, kondisi ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di kawasan ini hingga terjadi kebakaran hutan/lahan pebukitan, petani tidak dapat bekerja. bahkan warga penduduk yang tinggal di dataran tinggi pulau Samosir kesulitan air minum/mandi. Ternyata tidak hanya makhluk hidup yang menghadapi masalah, perairan Danau Toba yang cukup luas pun turut merasakan akibat perubahan cuaca, musim kemarau yang bekepanjangan. Pengamatan kaum awam, kurangnya pasokan dari daerah tangkapan air (catchment area), tidak adanya hujan, penebangan kayu di sekitar kawasan ditengarai sebagai penyebab kurangnya volume air hingga ketinggian permukaan turun 2,5 meter. Penurunan ini nampak dari kejauhan dengan garis putih di sepanjang pantai. Sementara itu, sebagaimana dikabarkan Antara dan Republika.co.id Medan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sumatra Utara minta kepada pemerintah melalui Kementerian Lingkungan dan Kehutanan segera mengatasi penyebab menurunnya permukaan air Danau Toba yang mencapai 2,5 meter. Pasalnya, bila hal itu terus dibiarkan, maka akan berdampak pada keindahan Danau Toba. "Begitu juga kedatangan atau kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah tersebut, akat terganggu," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, Dana Tarigan, di Medan, Kamis (29/12). Berkurangnya air Danau Toba tersebut, menurutnya harus diteliti secara mendalam oleh Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH) dan jangan dibiarkan terlalu lama. Sebab, masalah tersebut bisa saja akan berdampak pada kelestarian lingkungan di kawasan Danau Toba itu, yang saat ini menjadi destinasi atau kunjungan wisatawan dunia. Tarigan mengatakan, sampai saat ini, belum diketahui penyebab surutnya air Danau Toba yang terbesar di Asia Tenggara itu, dan apakah karena faktor fenomena alam musim kemarau atau adanya kerusakan hutan yang berada di pinggiran danau tersebut. Selain itu, korporasi atau perusaahaan swasta yang beroperasi di pinggiran Danau Toba tersebut. "Inilah perlunya KLH melaksanakan survei ke kawasan Danau Toba itu, sehingga dapat diketahui penyebabnya, dan sekaligus dicarikan solusinya," ucapnya. Dana Tarigan menyebutkan, surutnya air Danau Toba itu, dapat dijadikan sebagai permasalahan nasional, karena kawasan tersebut akan dijadikan "Monaco" di Asia Tenggara. Bahkan, Pemerintah Pusat sedang membangun dan meningkatkan fasilitas, sarana prasarana di kawasan objek wisata Danau Toba yang sangat terkenal di dunia. Program secara nasional yang dilakukan pemerintah tersebut jangan sampai mengalami gangguan hanya karena air Danau Toba yang mengalami penurunan. "Pemprov Sumut dan tujuh kabupaten yang ikut mengelola Danau Toba, juga harus ikut bertanggung jawab mencari solusi penurunan air danau tersebut," kata pemerhati lingkungan. Sementara, Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu mengaku, sangat prihatin dengan surutnya permukaan air Danau Toba hingga mencapai 2,5 meter dan akan berdampak pada kehidupan masyarakat di kawasan sekitarnya. Berbagai pendapat dan komentar yang pewarta media ini peroleh di media sosial, bahwa PT Inalum (produsen aluminium dan listrik) yang kini dikelola oleh Indonesia adalah penyebab utama menurunnya volume air/permukaan danau toba. "Ketika PT Inalum masih dikelola konsorsium Jepang, permukaan Danau Toba masih ttp terjaga disekitaran 902 dpl, ketika pengelolaan Inalum beralih kpd Indonesia, permukaan Danau Toba merosot jauh. Tanda tanya ini semakin mencurigakan ketika Pemkab sekitaran Danau Toba, rame2 dan maksimal promosi pantai2 sbg destinasi wisata. Kemarau yg panjang, tdk pernah membuat permukaan Danau Toba surut se ekstrim sekarang." tulis netizen Ganda Tambunan di akun facebooknya. Senada dengan Ganda, rekan Marihot Simbolon yang dikenal sebagai pewarta juga menyebut bahwa turunnya permukaan danau bisa saja pengaruh PT Inalum terlalu banyak menggunakan air Danau Toba. "Itulah dugaan, menurut analisa saya bisa saja penyebabnya air Danau Toba terlalu banyak digunakan utk memutar turbin mesin di Inalum, ribuan meter kubik/detik kalau gak air Danau Toba disedot perusahaan raksasa itu" sebut Marihot. Netizen lainnya justru lebih spesifik dengan melakukan kalkulasi kebutuhan air danau toba untuk memutar turbin PLTA Asahan/PT.Inalum. "Kalau tiap tahun 2,5 m air danau toba berkurang dan living time air Danau Toba 78 tahun, maka 2,5 x 78 tahun maka permukaan air akan turun 195 m. Tinggi level air 905 mdpl - 195 mdpl = 710 mdpl level muka air. Turbin PLTA akan terganggu apabila tinggi level muka air < 903 mdpl. Turbin PLTA Asahan berputar 10000 rpm. Bunker turbin ke bawah dg jarak - 200 m dr lantai kantor dan masuk ke dlm terowongan 1000 m. Dengan kontrol air PLTA sgt ketat maka yang menjadi masalah utama volume air yang masuk minim (red: harus sedot air banyak agar turbin jalan)." sebut Helmut Todo Simamora yang pernah berkunjung ke PT Inalum. Helmut juga berharap agar upaya reboisasi hutan di kawasan Danau Toba (daerah tangkapan air) di 7 kabupaten harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang ini Presiden sudah menetapkan Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT). "Otoritas Danau Toba, wajib lakukan inspeksi keliling. Apa ada hal hal yg berobah terjadi. Misalnya, penggundulan hutan, yg menjadikan sumber mara air hilang. Pusaran air di seantero danau toba, yg boleh jadi terjadi kebocoran Kondisi sungai (Batak: bondar, binanga) yang mengalir ke danau toba. Kondisi cuaca dari waktu ke waktu versus tinggi permukaan air ( apa ada historinya), dll." tulis netizen fb JB Butarbutar, seorang pengamat budaya dan lingkungan.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Pasang Surut Sastra Bandingan 02 Jun 2019 07:39 WIB

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia