KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (10), telah saya sampaikan alasan-alasan kenapa KH Ma'ruf Amin merupakan salah satu sosok yang paling tepat mendampingi Jokowi dalam Pilpres 2019 kemarin.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
PWI Jaya Gelar Orientasi Wartawan 17 Jul 2019 16:02 WIB


 
 
OPINI

Suhu Bumi Meningkat Empat Derajat Celsius, Waspadalah!
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 26-Mar-2019, 17:09:12 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Siaran pers The World Bank dibawah judul "New Report Examines Risks of 4 Degree Hotter World by End of Century", Washington (18/11/2018) mengabarkan terbitnya laporan ilmiah Bank Dunia bahwa suhu bumi berpotensi naik sebanyak empat derajat di akhir abad ini jika komunitas global gagal menanggapi isu perubahan iklim.

Dikatakan, kegagalan itu akan dapat menimbulkan serangkaian peristiwa perubahan drastis yang membahayakan, termasuk gelombang panas ekstrim, turunnya pasokan pangan global dan meningkatnya permukaan air laut, serta mempengaruhi ratusan juta orang.

Dampak peningkatan suhu akan terasa di seluruh kawasan dunia; dampak di beberapa kawasan akan lebih parah dari kawasan lainnya. Laporan tersebut menyimpulkan golongan miskin akan merasakan dampak terbesar.

Turn Down The Heat (turunkan suhu bumi) merupakan kajian perubahan iklim yang disiapkan untuk Bank Dunia oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Climate Analytics. Kajian ini melaporkan, suhu bumi akan meningkat empat derajat Celsius yang setara 4°C pada akhir abad ini, dan berbagai upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca tidak akan berdampak signifikan.
Berikut empat temuan hasil penelitian para ahli Bank Dunia yang perlu sungguh-sungguh menuntut perhatian, antara lain:

1. Terjadinya gelombang panas ekstrim (yang tanpa pemanasan global seharusnya terjadi tiap beberapa ratus tahun sekali) akan terjadi hampir setiap musim panas di sejumlah kawasan. Dan dampaknya tidak akan merata. Pemanasan terbesar diperkirakan akan terjadi di daerah daratan berkisar antara 4° C sampai 10° C. Peningkatan suhu sebanyak rata-rata 6° C atau lebih dari rata-rata musim panas bulanan diperkirakan akan terjadi di Mediterania, Afrika Utara, Timur Tengah dan sebagian Amerika Serikat.

2. Kemungkinan peningkatan permukaan laut sebanyak 0.5 sampai 1 meter pada tahun 2100, atau mungkin lebih dari itu. Beberapa kota yang paling rentan terletak di Mozambik, Madagaskar, Meksiko, Venezuela, India, Bangladesh, Indonesia, Filipina and Vietnam.

3. Kawasan yang paling rentan adalah daerah tropis, sub-tropis, dan mendekati kutub, dimana dampak berlipat akan terjadi bersamaan.

4. Pertanian, sumber air, kesehatan manusia, keanekaragaman hayati dan pelayanan ekosistem kemungkinan akan terpengaruh cukup parah. Hal ini dapat mengakibatkan perpindahan penduduk skala besar yang akan mempengaruhi faktor keamanan penduduk serta sistem ekonomi dan perdagangan. Banyak pulau kecil yang tidak akan dapat mempertahankan eksistensinya.

Sementara itu, Nationalgeographic.co.id mengabarkan bahwa peristiwa El Nino kemungkinan sedang berlangsung, meningkatkan cuaca ekstrem yang diperburuk oleh perubahan iklim. Menurut para ilmuwan, tahun 2019 akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah manusia. Data dari Climate Predicition Center di National Oceanic and Atmospheric Administration juga menyebut 80% El Nino penuh telah dimulai dan akan berlangsung setidaknya hingga akhir Februari 2019.

Tidak hanya itu, studi yang dipublikasikan pada jurnal Geophysical Research Letters menyatakan bahwa dampak El Nino semakin memburuk di beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim. Dampaknya pun akan semakin parah apabila suhu Bumi terus meningkat. "Dengan El Nino, sangat mungkin 2019 menjadi tahun terpanas," ujar Samantha Stevenson, ilmuwan iklim di University of California, Santa Barbara.

Di Indonesia sebagai negara tropis/sub tropis, dalam empat tahun terakhir yaitu 2015-2018 sangat dirasakan sebagai tahun-tahun terpanas di bumi. Hal ini terjadi dipicu oleh peningkatan emisi karbon dioksida yang memerangkap panas dan telah melebihi rekor. Iklim Bumi lebih hangat dari rata-rata abad ke-20 selama 406 bulan terakhir. Artinya, tidak ada orang di bawah usia 32 tahun yang pernah mengalami dingin seperti di masa tersebut. Kebakaran hutan, pembakaran lahan di beberapa provinsi di negeri ini ditengarai turut memicu panas bumi.

"Pemanasan yang meningkat akan memengaruhi kesehatan manusia, serta akses ke makanan dan air tawar. Itu juga bisa menyebabkan kepunahan hewan dan tumbuhan, merusak kehidupan terumbu karang dan makhluk laut," kata Elena Manaenkova, Sekretaris Jenderal World Meteorological Organization (WMO).

Para ahli iklim dan lingkungan mengatakan bahaya panas sangat memengaruhi kondisi kehidupan dan lingkungan manusia. Dunia yang menghangat berarti akan ada kerusakan ekstrem dan cuaca berbahaya seperti gelombang panas, kebakaran, kekeringan, banjir dan badai ganas.

Pada 2018 tercatat ada lebih 70 badai tropis di belahan bumi Utara. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya yang hanya berjumlah 53. Badai kuat dan merusak ini diketahui membawa kehancuran di Kepulauan Mariana, Filipina, Vietnam, Korea, dan Tonga. Gelombang panas juga menurunkan produktivitas manusia secara signifikan. Sebab, orang-orang harus berada di rumah selama beberapa hari karena terlalu berisiko jika beraktivitas di luar ruangan. Sebanyak 153 jam kerja musnah akibat gelombang panas yang terjadi tahun 2018.

Jika El Nino adalah gelombang panas, sebaliknya La Nina adalah kebalikan dari El Nino, membentuk siklus alam yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga tiga tahun. Ketika La Nina terjadi, pola cuaca di seluruh dunia akan terpengaruh. Menimbulkan berbagai dampak pada timbulnya hasil panen gagal, kelaparan, risiko kebakaran, pemutihan karang, dan cuaca ekstrem.

Peneliti mengatakan, dampak dari El Nino maupun La Nina saat ini, lebih parah dari 20 tahun sebelumnya akibat suhu yang menghangat. Ketika El Nino membawa hujan dan suhu yang lebih dingin di selatan AS, itu akan membawa panas dan kekeringan di Australia, serta musim salju yang kering di tenggara Afrika dan utara Brasil. Boleh jadi lapisan Es di gunung Everest menghangat, dan ada kemungkinan mencair

"Peristiwa El Nino akan menyebabkan kondisi dingin dan basah di AS, berisiko banjir, sementara La Nina akan meningkatkan bahaya kebakaran dan kekeringan," sebut ilmuwan Stevenson. Ditambahkannya, meski dampak peristiwa El Nino dan La Nina diperkuat oleh suhu yang lebih hangat, tapi belum diketahui apakah perubahan iklim juga akan memengaruhi kejadian di masa depan.

Disimpulkan bahwa peningkatan suhu 4°C berpotensi menciptakan skenario-skenario cukup mematikan, antara lain kota-kota pesisir terancam banjir, produksi pangan terancam turun dan berpotensi meningkatkan kasus malnutrisi; banyak kawasan kering yang akan semakin kekeringan, dan kawasan basah menjadi lebih basah; banyak kawasan akan mengalami gelombang panas, terutama di daerah tropis; banyak kawasan akan mengalami kelangkaan air; siklon tropis akan semakin intens; dan keanekaragaman hayati terancam punah, termasuk sistem terumbu karang.

Kendati demikian, peningkatan suhu bumi 4°C masih bisa dihindari. Dengan langkah kebijakan yang berkelanjutan, peningkatan suhu dapat dipertahankan dibawah 2°C, sesuai target komunitas global. Walaupun target ini sudah membawa kerusakan serius terhadap lingkungan hidup dan populasi manusia, namun harus dilakukan.

“Peningkatan suhu bumi 4 derajat dapat dan harus dihindari – kita perlu mempertahankan peningkatan suhu bumi dibawah 2 derajat,” kata Presiden Grup Bank Dunia, Jim Yong Kim.

“Kurangnya langkah untuk menyikapi perubahan iklim akan membuat dunia yang akan diwariskan pada anak cucu kita sangat berbeda dengan dunia yang kita tempatkan sekarang. Dunia yang akan diwariskan pada anak cucu kita akan sangat berbeda dengan dunia yang kita tempati sekarang jika tidak ada langkah konkrit untuk mengatasi perubahan iklim. Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pembangunan, dan kita memiliki tanggung jawab moral untuk bertindak atas nama generasi-generasi penerus, terutama kaum miskin.” lanjut Jim Yong Kim.

Lebih lanjut dikatakan Kim: “Dunia harus lebih agresif menanggapi masalah perubahan iklim. Langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih baik sangat penting dan solusi-solusi dapat kita ditemukan. Tanggapan global harus sepadan dengan skala masalah perubahan iklim, dan tanggapan ini harus berada di jalur pembangunan cerdas iklim dan pemerataan kemakmuran, dalam waktu yang sangat terbatas.”

Sementara itu Rachel Kyte, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Pembangunan yang Berkelanjutan memaparkan pengalaman grup Bank Dunia di bidang program "green growth" bahwa penggunaan energi dan sumber daya alam yang lebih efisien dan efektif dapat mengurangi dampak perubahan iklim pada pembangunan, tanpa mengurangi laju pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

“Tiap negara akan mengambil jalur berbeda untuk "gerakan pertumbuhan hijau" dan mencari titik keseimbangan antara akses dan ketahanan energi. Namun yang pasti, tiap negara memiliki kesempatan penanaman pohon (penghijauan) yang dapat dieksploitasi,” kata Rachel Kyte.

Menurutnya, Negara-negara dunia harus memunculkan kebijakan dan inisiatif/regulasi: mengalihkan subsidi bahan bakar fosil dan subsidi-subsidi lainnya untuk keperluan yang lebih baik; memasukkan nilai modal alam kedalam perhitungan pembangunan nasional; memperluas belanja publik dan swasta untuk infrastruktur hijau yang tahan cuaca ekstrim, serta sistem transportasi publik yang dapat mengurangi emisi karbon dan meningkatkan akses terhadap pekerjaan dan pelayanan; mendukung penetapan harga karbon dan skema perdagangan emisi nasional dan internasional; dan meningkatkan efisiensi energi (terutama di gedung bertingkat) dan pasokan tenaga terbarukan.

“Laporan ini menekankan realita bahwa gejolak iklim saat ini mempengaruhi segala aspek kehidupan kita. Kita akan menggandakan upaya kita guna membangun kapasitas dan tingkat ketahanan untuk beradaptasi, dan juga mencari solusi untuk mengatasi tantangan iklim.” pungkas Kyte.

Buat negara kita Indonesia, selama beberapa tahun belakangan ini telah mengalami dampak buruk pemanasan global, El Nino dan La Nina antara lain terjadinya bencana alam kebakaran hutan/lahan; banjir bandang dan tanah longsor akibat kerusakan lingkungan.

Salah satu upaya yang harus dilakukan secara masif, tersosialisasi dan menjadi tanggungjawab bersama pemerintah dengan masyarakat adalah gerakan hijau, menghentikan dan melarang pembakaran/pembalakan hutan dan lahan, penanaman pohon di lahan non pertanian produktif, menghentikan proyek galian C dilahan terlarang.

Terkait kehidupan manusia, seorang sahabat mengingatkan melalui postingannya di medsos Whatsapp: "Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lain sedang mengalami gelombang panas sekarang, perhatikan:
1. Cuaca sangat panas, di bawah matahari, bisa mencapai 40 derajat C. Pada 40 derajat, jika Anda minum air es dalam sekejap, pembuluh darah mikro bisa meledak. Salah satu teman baru saja masuk ke rumah untuk mencuci kakinya dengan air dingin. Lalu matanya tidak bisa melihat dengan jelas, dan dia pingsan. Hanya telinga yang bisa mendengar suaranya. Dia ketakutan!
2. Suhu di beberapa tempat telah mencapai 38 derajat C atau lebih tinggi, tetapi suhu indra tubuh harus lebih tinggi. Bahayanya bukan hanya dengan minum air dingin es. Bahaya yang sama dapat terjadi dengan bahkan mencuci tangan / mencuci muka / mencuci kaki.
Anda tidak boleh membuat bagian tubuh yang panas terkena sengatan suhu panas dengan air dingin. Anda membutuhkan sekitar 30 menit untuk membiarkan tubuh menjadi dingin dan disesuaikan dengan suhu dalam ruangan. Jadi, minumlah air hangat suam sekitar 34 hingga 36 derajat C.
3. Pernah ada seorang pria yang sangat kuat, namun duatu waktu dia mengalami stroke. Dia dalam kondisi buruk, mengatakan kepada dokter, "Baru-baru ini, pada hari yang panas, setelah kembali ke rumah, untuk dengan cepat menjadi dingin, saya segera mandi air dingin. Saya merasa tidak dapat menggerakkan rahang saya dengan benar. Saya segera memanggil ambulans untuk mengirim saya ke rumah sakit. Itu menyelamatkan hidup saya."

Informasi ini menggugah kesadaran kita akan betapa dampak pemanasan global dapat menyebabkan manusia tidak berdaya. Maka, ingat terutama di hari yang panas, hindari air dingin untuk mendinginkan diri karena akan menyebabkan kontraksi pembuluh darah yang cepat. Dalam cuaca tidak normal tahun ini, mungkin enak untuk minum dingin, tetapi sangat berbahaya. Hindari meneguk minuman, minumlah perlahan. Hindari menenggak minuman keras (alkohol), awas tubuhmu terbakar.(*) 

 

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia