KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJalan Berliku Divestasi Tuntas, Kontrak Karya Freeport Sah Menjadi IUPK oleh : Wahyu Ari Wicaksono
22-Des-2018, 04:36 WIB


 
 
KabarIndonesia - Setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif yang melibatkan pemerintah, Holding Industri Pertambangan PT INALUM (Persero), Freeport McMoRan Inc. (FCX) dan Rio Tinto, akhirnya pada hari ini telah resmi terjadi pengalihan saham mayoritas (divestasi) PT Freeport Indonesia (PTFI)
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA



 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Negeri Nestapa 23 Jun 2020 09:15 WIB

Kami Masih Punya Rasa Malu 31 Mei 2020 11:30 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
LOVE STORY BIBI LUNG & YOKO 27 Jun 2020 05:00 WIB


 
YUUK DEMO NGEPUNG SURGA! 27 Jun 2020 06:33 WIB


 
 
PROFIL

MANG UCUP ITU CHINA BANANA
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 28-Jan-2020, 00:52:06 WIB

KabarIndonesia -  Perkenalkan nama saya Nana Kasna, tapi kalo di kampungku lebih dikenal dengan nama Bah Nana, maklum saya sudah tidak memiliki nama Tionghoa lagi, begitu juga dengan anak-anak saya. Satu-satunya yang mungkin masih berbau Tionghoa adalah nama keluarga saya KASNA yang berarti „beKAS chiNA“.

Dari segi penampilan jelas tidak mungkin bagi saya untuk bisa mengakui sebagai pribumi asli, sehingga dengan setiap orang juga tahu bahwa saya ini adalah peranakan Tionghoa.
Namun kalau saya jujur, itu hanya dari segi penampilan kulit luarnya saja, saya layak disebut Tionghoa, selebihnya dari itu tidak ada! 

Sehingga dengan bukan hanya nama saja „BAH NANA“, melainkan perasaan saya pun sudah seperti Banana alias pisang tulen. Kulit luarnya memang kuning, tetapi dalamnya putih atau kosong tidak memiliki identitas maupun pengetahuan tentang bahasa maupun budaya Tionghoa.

Memang harus diakui bahwa saya ini keturunan Tionghoa, sayangnya hanya sebagai bangsa „China Banana“ saja. Saya tidak mengerti bahasa Tionghoa, boro-boro nulis, ngomong saja tidak bisa. Beberapa kata yang saya ketahui itupun saya pelajari dari buku cersilnya Kho Ping Hoo. Tokoh-tokoh Tionghoa yang saya kenalpun hanya sebatas Jacky Chan dan Bruce Lee saja.

Memang saya pengagum berat budaya Tionghoa, tetapi hanya sebatas pencinta film-film cersil saja. Jadi tokoh seperti Yoko atau Siauw Liong Lie bagi saya tidaklah asing. Begitu juga dengan jenis makanan Tionghoa, seperti Ku Lu Yuk maupun Puyonghai. Hari raya penting yang tak pernah terlupakan seperti Imlek dan Capgome, berikut tradisi angpao dan kue keranjangnya.

Mungkin banyak yang menilai bahwa tokoh fiktif saya ini, Babah Nana itu sih „Wong Kam Pung“ tulen yang tidak berpendidikan. Jadi wajarlah kalau pengetahuannya jongkok, tetapi bagaimana dengan diri anda sendiri, berapa banyak yang anda ketahui tentang tradisi maupun budaya Tionghoa.

Mang Ucup sendiri adalah CINA BANANA TULEN yg tidak menguasai Bahasa Mandarin maupun bahasa Daerah sama sekali. Pengetahuan tentang budaya Tionghoa saya dapatkan, dari pergaulan sejak kecil, maklum saya dibesarkan di depan Kelenteng Bandung

Kita mengenal banyak sekali pujangga Barat mulai William Shakespeare sampai dengan Victor Hugo. Bahkan para pemenang Nobel Sastra mulai dari Ernest Miller Hemingway sampai dengan Guenter Grass.

Namun kalau ditanya tentang pujangga atau penulis Tionghoa jarang ada yang tahu, mungkin hanya sebatas Khong Hu Chu atau Lao Tze saja, sedangkan bagi mereka yang tinggal di negara barat mungkin juga pernah membaca buku karangannya dari Amy Tan (Tan En Mei).

Pernahkan anda membaca buku „Soul Mountain“ karangan dari Guo Xingjian, sastrawan Tionghoa yang telah memenangkah Hadiah Sastra Nobel di tahun 2000 dan juga mendapatkan penghargaan „Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres” dari pemerintah Perancis?

Atau buku „The Family“ karangan dari almarhum Ba Jin salah satu pujangga Tionghoa yang bukunya banyak sekali dibaca, bahkan ia juga adalah pengarang buku anak-anak seperti „The Immortality Pagoda“.

Tetapi kebalikannya, saya yakin banyak dari kita sudah pernah membaca hasil karyanya atau minimum melihat filmnya dari Chin Yung seperti Sin Tiauw Hiap Lu ( Memanah Burung Rajawali) atau To Liong Too (Golok Pembunuh Naga).

Begitu juga kita mengenal banyak sekali pelukis maupun hasil karyanya, mulai dari Basuki Abdullah, Rembrandt, Dalli sampai dengan Piccaso. Namun sayangnya tidak tidak pernah mengenal pelukis Tionghoa seperti Qí Báishí.

Orang Tionghoa itu harus seperti jeruk; kulitnya kuning, isinyapun seharusnya tetap kuning juga. Dan “Kuning” adalah warna simbolik juga bagi bangsa Tionghoa, karena mereka mendiami tanah air Huang Tu Di = tanah kuning seluas hampir 10.000 km. Bahkan Kaisar negara Tiongkok pertama lebih dikenal dengan nama Huang Di = Kaiser Kuning menurut para sejarawan, karena ia berasal dari tanah kuning tersebut. Wang U Chup, 
By Race I am Chinese and By Grace I am Christian. (Seperti digoreskan Mang Ucup si Elvis Presley dari Bandung).

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sambal Oelek Indonesia Buatan ASoleh : Fida Abbott
02-Jun-2020, 02:23 WIB


 
  Sambal Oelek Indonesia Buatan AS Sambal Oelek ini saya temukan di Walmart Supercenter, Parkesburg, Pennsylvania. Awalnya saya mengira buatan salah satu negara Asia selain Indonesia karena tulisan di depan botolnya. Ternyata buatan Amerika Serikat. Tampaknya Indonesia harus meningkatkan persaingannya di pasar bebas dan jeli membidik
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
HOW ARE YOU MY FRIEND? 27 Jun 2020 05:21 WIB

Masihkah Ada Rasa Damai Di Hati? 21 Jun 2020 14:23 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia