KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HiburanToko Boekoe Tempo Doeloe oleh : Kabarindonesia
04-Apr-2020, 09:39 WIB


 
 
KabarIndonesia - Hampir setiap anak Tempo Doeloe senang baca komik, termasuk saya. Sebelum ada komik dalam bentuk buku, kami selalu membaca komik strip yang terdapat di koran ataupun majalah.

Misalnya, Put On yang terbit rutin di surat
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemunafik 05 Apr 2020 16:00 WIB

Rembulan di Celah Matamu 07 Mar 2020 15:27 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
 
SERBA SERBI

ASAL MUASAL KATA "OWE dan CINA SINGKEK"
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 25-Jan-2020, 12:32:08 WIB

KabarIndonesia - Mengutip id.wikipedia.org, daftar suku bangsa di Indonesia menurut jumlah penduduk merujuk pada hasil Sensus Penduduk tahun 2010 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik, bahwa jumlah suku/etnis Tionghoa (China) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia diperkirakan 1,2 persen dari total populasi.

Kendati demikian, pengalaman dan amatan menunjukkan pola kehidupan mereka tidak terlepas dari budaya di negeri asalnya termasuk soal bahasa. Mereka kemudian berasimilasi dengan bahasa (suku) komunitas di tempat tinggalnya bahkan mempengaruhi logat/gaya bahasa sekelilingnya.

Kata-kata yang biasa diucapkan dalam bahasa Cina, kemudian diadopsi menjadi kata sehari-hari, seperti catatan berikut ini:

Owe itu bisa diartikan dengan kata SAYA atau Wo dalam bahasa Mandarin atau Gua (Hokkian), Ngai (Hakka/Kheh), Ngou (Konghu) dan Wa (Tiociu).

Kata Owe sebagai pengganti kata saya hanya berlaku bagi kaum pria, sedangkan bagi kaum wanita tetap digunakan kata saya. Yang menggunakan kata Owe pada umumnya hanya kaum Peranakan Hokian, orang totok sendiri tidak pernah menggunakan kata Owe.

Kata Owe juga bisa diartikan YA atau BAIKLAH sebagai jawaban panggilan seseorang atau perintah yang diberikan.

Ya /Baiklah = Hao dalam dialek Hokian jadi Ho sering diucapkan sebgai "ho e" huruf e = Lah, jadi kata "ho e" bisa diterjemahkan menjadi BAIKLAH. Dari sinilah kata OWE diserap.

Kata Gwa juga berarti saya dalam bahasa Hokian, tetapi hanya digunakan bagi orang yang sebaya, bahkan terkesan kasar. Kata Gwa berkembang jadi Gue dalam bahasa Betawi. Ada juga yg berpendapat bahwa kata Owe diserap dari bahasa Mandarin Wei (Hokian = We) yang berarti Hallo

CINA SINGKEK (SENGKE)

Kata Cina Singkek ini berlaku hanya untuk orang Tionghoa Totok bukannya dari kaum peranakan. Kata Singkek sering dilontarkan sebagai hinaan, terutama terhadap orang Tionghoa seperti di TV = Babah Ho Liang yang licik, bahkan disini kata Owe juga digunakan sebagai ciri khas kaum Tionghoa.

Kata Singkek sebenarnya berupa gabungan dari dua kata Sin Khe; Sin = Baru & Khe = Tamu yang bisa diartikan sebagai para pedatang (tamu) yang baru datang dari Tiongkok atau keturunan Totok tulen!

Orang Tionghoa (Peranakan) yang telah turun temurun tinggal di Indonesia inilah yang pada awalnya memberikan mereka julukan kata Singkek. Kaum Singkek tidak menguasai bahasa daerah/Indonesia. Disamping itu mereka juga harus hidup prihatin, karena tidak punya uang maupun pekerjaan.

Hidup hemat inilah yang terkesan bahwa mereka itu sebagai Cina Pelit/Kikir, padahal keadaanlah yang mengharuskan mereka hidup hemat!. Apakah ini salah? Mungkin dari sini pulalah asal muasalnya sifat orang Tionghoa yang pinter berhemat.

PERANAKAN

Kata Peranakan = Keturunan (Hua Yi), sebenarnya berlaku bagi semua etnis entah itu Belanda, Arab ataupun Tionghoa.

Istilah ini muncul sekitar abad 18 yang digunakan oleh kolonial Belanda untuk membedakan keturunan imigran Tionghoa yang sudah berasimilasi dengan wanita lokal. Maklum dahulu sedikit sekali wanita Tionghoa yang berimigrasi ke Nan Yang (Asia Tenggara).

Sedang kata Tionghoa TOTOK (Hua Chiao) hanya berlaku bagi mereka yang benar-benar keturunan Tionghoa tulen yang datang dari Tiongkok.

Tionghoa Peranakan pada umumnya sudah melupakan tradisi maupun budaya Tionghoa bahkan lebih dari 90% sudah tidak bisa berbahasa Mandarin lagi termasuk mang Ucup!

ENCIM, ENCEK, NYOYA & BABAH

Panggilan Encim dahulu adalah panggilan terhormat seperti juga Tante. Kata Encim bukan diserap dari bahasa Mandarin melainkan dari kata Hokian "Ng-Cim", sedangkan Encek berarti Oom. Tapi pada umumnya mereka sekarang tidak senang disapa dengan panggilan Encim ataupun Encek.

Mereka lebih senang dengan panggilan Nyonya yang jauh lebih terhormat, maklum mirip panggilan dalam bahasa Londo. Namun kata Nyonya ini bukannya diserap dari bahasa Belanda melainkan dari bahasa Hokkian Selatan = Nio-a.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata Nyonya ini diserap dari kata Donha = Wanita dalam bahasa Portugis.
Sedangkan bagi para nona-nona muda apabila di Italy, tidak mau dipanggil Nona sebab disana Nona = Nenek!

Kata Babah - Baba bisa disamakan seperti Bapak/Babe, panggilan bagi pria Tionghoa Peranakan. Diserap dari bahasa Persia yang sering digunakan bagi para penjual India.

Demikian dikabarkan kepada khalayak dengan semangat pluralisme Indonesia. Semoga bermanfaat. (MU)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Saus Sate Indonesia Buatan Thailandoleh : Fida Abbott
22-Mar-2020, 03:07 WIB


 
  Saus Sate Indonesia Buatan Thailand Saus sate Indonesia ini saya temukan di toko kelontong daerah Chester, negara bagian Pennsylvania, AS. Harganya turun drastis dari $6.99 menjadi $0.99. Jumlahnya banyak sekali yang disetok di rak. Senang melihat salah satu saus terkenal Indonesia dijual di AS. Sayangnya,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
Cara Mudah Mulai Investasi Saham 27 Mar 2020 16:14 WIB


 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia