Rahasia Ingatan Terdashyat di Dunia
Oleh : Wahyu Ari Wicaksono

12-Des-2006, 12:22:21 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Walaupun Tipitaka telah dituliskan, tradisi dasar secara oral tetap dipertahankan. Setiap aspek ajaran dipertahankan dan dijunjung tinggi dalam ingatan alih-alih dalam catatan tertulis. Itulah sebabnya para murid dikenal dengan sebutan savaka yang berarti ”pendengar”. Dengan mendaras dan mendengarkan, mereka berusaha mempertahankan ajaran Buddha dalam tradisi oral.

Pada tahun 1956, di Konsili Buddhis Keenam di Yangon, Myanmar, tercatat suatu peristiwa bersejarah yang menggemparkan dunia. Di hadapan ribuan peserta sidang dari berbagai penjuru dunia, Bhikkhu Badanta Viccittasara menjawab pertanyaan dari seluruh isi Tipitaka yang diajukan oleh Sayadaw Mahasi. Beliau mendaras Kitab Suci Tipitaka yang tebalnya sekitar sebelas kali lipat Kitab Injil, tanpa bantuan naskah, dengan begitu lancar, tanpa salah sedikit pun! Penghapal Tipitaka

Beliau juga dikenal dengan nama Sayadaw Mingun, seorang bhikkhu dari Desa Mingun, Myanmar, yang mendapat gelar Tipitakadhara (Penghapal Tipitaka) pertama pada era modern ini. Tradisi menghapalkan Tipitaka semacam ini masih dilestarikan di Myanmar, dan hingga kini sudah tercatat ada 11 orang Tipitakadhara. Ini juga membuktikan bahwa tradisi menurunkan ajaran Buddha secara ingatan dan oral sebelum Tipitaka dituliskan adalah memungkinkan dan bukanlah isapan jempol belaka.

Guiness’ Book of World Record

Atas prestasi yang mengagumkan ini, Guiness’ Book of World Record 1986 mencatat Sayadaw Mingun sebagai: MANUSIA DENGAN INGATAN TERDAHSYAT DI DUNIA. Suatu gelar yang sudah selayaknya dan lebih mengundang decak lagi karena beliau menghapalkan naskah yang bukan dari bahasa ibunya (Myanmar), melainkan dari bahasa asing (Pali) yang sudah ”mati”. Mingun Sayadaw wafat pada tahun 1993, pada usia 82 tahun, setelah melewatkan 62 masa ke-bhikkhu-an (vassa).

Salah satu pesan yang terukir di monumen beliau adalah: ”Aha, segala fenomena rupa dan nama tidaklah kekal adanya. Semua hanyalah sementara.”

Dua Tipitakadhara di Indonesia

Di antara 11 orang Tipitakadhara, 7 di antaranya masih hidup sampai saat ini. Yayasan Karaniya dan Ehipassiko Foundation, bekerja sama dengan berbagai pihak, akan mendatangkan 2 orang ”legenda hidup” ini, yakni Bhikkhu Indapala (46 tahun) dan Bhikkhu Thondara (51 tahun).

Dalam ajang langka yang akan digelar pada 16-21 Desember 2006 ini, kedua Tipitakadhara akan menuturkan kisah perjuangan mereka dalam memindahkan segenap isi Tipitaka yang sangat tebal ke dalam benak mereka.

Roadshow 5 hari 5 kota Indonesia


Ajang yang diberi tajuk KRONOLOGI HIDUP BUDDHA ini akan digelar dalam susunan roadshow di 5 kota besar di Indonesia selama 5 hari berturut-turut, yaitu:16 Des: MEDAN, Danau Toba Convention Hall, 18.00 WIB, 17 Des: JAKARTA, Auditorium BPPT Thamrin, 14.00 WIB, 18 Des: PALEMBANG, Sandjaja Ballroom, 18.30 WIB, 19 Des: SURABAYA, Vihara Dhammadipa, 18.30 WIB, 20 Des: SEMARANG, Vihara Buddhagaya, 18.30 WIB.

Selain ceramah Dhamma, acara ini akan dimeriahkan oleh: operet anak, paduan suara, pemberkahan oleh Tipitakadhara, bazaar buku murah, dan peluncuran buku Kronologi Hidup Buddha, karya original putra-putri Buddhis Indonesia di kancah literatur Buddhis dunia.